Sebelum Wisuda, Sebagian Lulusan SMK-SMTI Yogyakarta Sudah Memasuki Dunia Industri
YOGYAKARTA — Bagi banyak lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK), hari wisuda menandai dimulainya pencarian kerja. Namun bagi sebagian purnasiswa SMK-SMTI Yogyakarta, transisi tersebut berlangsung lebih awal.
Ketika 344 siswa sekolah vokasi di bawah Kementerian Perindustrian itu mengikuti pelepasan purnasiswa pada 9 Juli 2026, sebagian di antara mereka telah mengetahui ke mana langkah berikutnya akan membawa mereka: ke ruang produksi, laboratorium, fasilitas manufaktur, atau bidang pekerjaan lain di sektor industri.
Data sekolah per 30 Juni 2026 menunjukkan bahwa 89,74 persen dari 344 lulusan telah bekerja, melanjutkan pendidikan, atau berwirausaha, hanya dua bulan setelah dinyatakan lulus. Sebanyak 245 orang telah bekerja, 45 melanjutkan studi, dan satu orang berwirausaha. Sebanyak 28 lainnya sedang dalam proses mendapatkan pekerjaan dan 25 dalam proses melanjutkan pendidikan.
Capaian tersebut memberikan gambaran mengenai pendekatan pendidikan vokasi yang tidak menempatkan sekolah dan industri sebagai dua dunia yang terpisah.
Di SMK-SMTI Yogyakarta, keduanya dipertemukan sejak proses pembelajaran berlangsung.
Ketika industri ikut menilai calon pekerjanya
Salah satu fondasi pendekatan tersebut adalah dual system, yang menggabungkan pembelajaran di sekolah dengan pengalaman belajar di industri.
Kepala SMK-SMTI Yogyakarta, Sarman, S.Pd., M.T., mengatakan siswa mulai menjalani praktik kerja industri ketika memasuki tahap akhir pendidikan. Perkembangan mereka kemudian dievaluasi bersama mitra industri secara berkala.
Dalam evaluasi setelah sekitar enam bulan berada di industri, perusahaan dapat menentukan apakah siswa dinilai sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Kalau industri mau ambil, silakan diambil, tapi kalau enggak, kembalikan kepada kami,” kata Sarman, seperti dikutip dalam laporan Harian Jogja.
Mekanisme tersebut membuat proses rekrutmen tidak selalu dimulai setelah siswa menerima ijazah. Menurut Sarman, ketika memasuki semester akhir, sudah banyak siswa yang bekerja.
Pola yang sama juga diterapkan melalui kelas industri dan program rekomendasi industri. Dalam beberapa program, siswa menjalani praktik sekaligus memiliki jalur penempatan kerja yang telah disiapkan bersama perusahaan.
Dengan demikian, hubungan antara sekolah dan perusahaan tidak berhenti pada penempatan siswa untuk praktik kerja. Industri juga menjadi bagian dari proses untuk mengenali, mengevaluasi, dan menentukan calon tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhannya.
Bukan hanya soal terserap kerja
Meski angka penyerapan menjadi salah satu indikator penting dalam pendidikan vokasi, capaian SMK-SMTI Yogyakarta tidak hanya dibangun melalui praktik kerja.
Pada tahun 2026, sebanyak 344 siswa dinyatakan lulus. Mereka berasal dari empat kelompok pendidikan: 94 siswa Teknik Kimia Industri, 93 siswa Kimia Analisis, 62 siswa Teknik Mekatronika dengan masa studi empat tahun, dan 95 siswa Teknik Mekatronika dengan masa studi tiga tahun.
Sekolah juga membekali siswa dengan sertifikasi kompetensi nasional melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Rata-rata tingkat kelulusan sertifikasi untuk tiga konsentrasi keahlian mencapai 96,51 persen.
Untuk sertifikasi internasional, siswa Teknik Kimia Industri dan Kimia Analisis mengikuti sertifikasi Vapro dari Belanda, sementara siswa Teknik Mekatronika memperoleh sertifikasi Siemens dari Jerman.
Tingkat kelulusan Vapro tercatat 92,55 persen untuk Teknik Kimia Industri dan 100 persen untuk Kimia Analisis. Sementara itu, sertifikasi Siemens mencatat tingkat kelulusan 78,12 persen untuk program Mekatronika empat tahun dan 100 persen untuk program tiga tahun.
Bagi sekolah, sertifikasi tersebut bukan sekadar tambahan pada dokumen kelulusan. Kompetensi yang diakui secara nasional maupun internasional diharapkan menjadi bagian dari modal siswa ketika memasuki lingkungan kerja yang memiliki standar berbeda dengan lingkungan sekolah.
Dari laboratorium menuju tempat kerja
Isnatun Khasanah, salah satu lulusan Kimia Analisis, merupakan contoh dari jalur tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMK-SMTI Yogyakarta, ia bekerja sebagai Quality Control Analyst Kimia di PT Reckitt Benckiser Indonesia. Ia juga menjadi salah satu lulusan terbaik dalam sertifikasi Vapro.
Menurut Isnatun, pengalaman belajar di sekolah dan praktik kerja industri membantunya ketika harus beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan.
Ia menilai kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, laboratorium berstandar industri, serta kemitraan sekolah dengan perusahaan menjadi sejumlah faktor yang mendukung kesiapan lulusan.
Namun, pengalaman memasuki dunia kerja juga menunjukkan bahwa kesiapan kerja tidak berarti proses belajar telah selesai.
Isnatun mengatakan bahwa ketika masuk ke industri, lulusan tetap akan menemukan peralatan yang lebih canggih serta budaya kerja yang berbeda dari lingkungan sekolah.
Hal tersebut menjadi salah satu tantangan pendidikan vokasi: memastikan siswa tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi ketika teknologi, prosedur, dan lingkungan kerja berubah.
Minat masuk meningkat
Relevansi pendidikan dengan kebutuhan industri juga tampaknya berpengaruh terhadap minat masyarakat.
Pada penerimaan siswa baru 2026, SMK-SMTI Yogyakarta menerima 4.044 pendaftar untuk 324 kursi. Rasio tersebut setara dengan sekitar 12,5 pendaftar untuk setiap satu kursi yang tersedia.
Tingginya jumlah pendaftar menciptakan persoalan lain bagi sekolah: bagaimana memperluas akses tanpa mengorbankan kualitas pendidikan dan hubungan yang telah dibangun dengan industri.
Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) BPSDMI Kementerian Perindustrian, Wulan Aprilianti Permatasari, mengatakan tingginya animo tersebut menjadi alasan untuk mempertimbangkan pengembangan sarana dan kapasitas sekolah.
Menurut Wulan, SMK-SMTI Yogyakarta saat ini mencatat tingkat serapan yang tinggi dibandingkan satuan pendidikan vokasi di bawah Kementerian Perindustrian. Pernyataan tersebut merujuk pada perbandingan di antara 22 satuan kerja dan sembilan SMK yang berada di bawah kementerian tersebut.
Ia juga mengatakan BPSDMI menargetkan seluruh lulusan dapat terserap dalam waktu enam bulan setelah lulus.
Mengubah cara melihat pendidikan vokasi
Capaian tersebut muncul di tengah perdebatan yang lebih luas mengenai posisi SMK dalam sistem pendidikan Indonesia.
Pendidikan vokasi secara ideal tidak hanya mempersiapkan siswa untuk memperoleh ijazah, tetapi juga menjembatani kebutuhan pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja. Dalam konteks tersebut, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada nilai akademik, melainkan juga mencakup kompetensi, sertifikasi, pengalaman industri, dan kemampuan beradaptasi.
Model yang diterapkan SMK-SMTI Yogyakarta menunjukkan salah satu pendekatan terhadap persoalan tersebut: mempertemukan siswa dengan industri sebelum mereka meninggalkan bangku sekolah.
Sarman menekankan bahwa setelah memasuki dunia profesional, lulusan memiliki tanggung jawab baru untuk menjaga profesionalitas sekaligus nama baik almamater.
“Junjunglah tinggi profesionalitas,” pesannya kepada para purnasiswa.
Pada akhirnya, angka 89,74 persen bukan hanya statistik tentang berapa banyak lulusan yang telah mendapatkan pekerjaan atau melanjutkan pendidikan.
Angka itu juga menggambarkan sebuah proses yang dimulai jauh sebelum seremoni pelepasan: ketika siswa pertama kali masuk laboratorium, menjalani praktik, memperoleh sertifikasi, memasuki lingkungan industri, dan dinilai oleh calon pemberi kerja.
Bagi 344 purnasiswa SMK-SMTI Yogyakarta, hari wisuda bukan semata-mata akhir dari pendidikan menengah.
Bagi sebagian dari mereka, dunia kerja telah dimulai bahkan sebelum toga dikenakan.